Mananti Pembuktian Bangkitnya Persepakbolaan Negeri Kincir Angin

Mananti Pembuktian Bangkitnya Persepakbolaan Negeri Kincir Angin

DECINES-CHARPIEU – Bukan sebatas meneruskan surprise, Belanda membidik misi semakin besar di partai pucuk Piala Dunia Wanita 2019. Pertandingan menantang Amerika Serikat (AS), malam nanti, jadi pembuktian bangunnya persepakbolaan Negeri Kincir Angin. Perubahan sepak bola wanita Belanda, terutamanya di Piala Dunia Wanita, termasuk cepat.

Cuma dalam kurun lima tahun mereka dapat mencatat prestasi bagus. Bila pada 2015 berhenti di set 16 besar, saat ini Sari van Veenendaal dkk dapat melejit sampai final. Sepanjang ada di Prancis, Belanda melalui penyisihan Group E dengan memberikan keyakinan. Oranje memuncaki Group E dari hasil tiga kemenangan kontra Kanada, Kamerun, serta Selandia Baru.

Akselerasi mereka terus mengonsumsi korban. Belanda beruntun singkirkan Jepang (2-1), Italia (2-0), serta Swedia (1-0). Perolehan itu dipandang mengagumkan sebab tidak semua team dapat mengerjakannya, ditambah dengan pengalaman yang masih termasuk minim di arena internasional. Rekam jejak Belanda sekarang terus membumbung.

Ditambah lagi, mereka tinggal dikit mengukir riwayat, yaitu jadi team ke-2 dari Benua Biru yang dapat mengawinkan gelar Piala Eropa Wanita dengan Piala Dunia Wanita. Awalnya Belanda dapat meratui Eropa sesudah menaklukkan Denmark 4-2 waktu final 2017 di muka publik sendiri. Selama ini, baru Jerman yang dapat memenangi dua kompetisi berprestise itu dengan beruntun.

“Ini benar-benar mengagumkan sebab kami baru 2x berperan serta di Piala Dunia Wanita. Awalnya kami tidak berani mengimpikan apapun. Saat ini, saya merasakan beberapa anak muda, khususnya wanita, bisa melihat kami serta mengerti jika beberapa hal bisa berlangsung saat Anda yakin diri,” papar bek Belanda Dominique Bloodworth, dikutip FIFA.

Berkilapnya prestasi Belanda selama ini tidak lepas dari sentuhan Pelatih Sarina Wiegman-Glotzbach. Menekuni jadi asisten pelatih semenjak 2014–2017 membuat tahu kelebihan serta kekurangan team. Semuanya membuat Asosiasi Sepak Bola Belanda (KNVB) mantap menunjuk Glotzbach jadi pelatih penting pada 13 Januari 2017. Awalnya, ia sudah sempat jadi interim setelah dipecatnya Van der Laan pada 23 Desember 2016.

Keyakinan besar KNVB dibayar Glotzbach dengan bawa Belanda memenangkan Piala Eropa Wanita 2017 di kandang sendiri selesai membabat Denmark. Itu jadi peristiwa bersejarah karena adalah gelar pertama di kompetisi sah. Kemampuan Belanda sekarang sejajar dengan raksasa Eropa jenis Jerman, Swedia, Norwegia, serta Inggris. Spesial hadapi AS, peranan Glotzbach kembali diperlukan.

Baca Juga : Lionel Messi Yakin Pemenang Copa America 2019 Sudah Diatur

Soalnya, pelatih berumur 49 tahun itu sudah pernah terhimpun di North Carolina Tar Heels. Glotzbach ada satu team bersama dengan legendaris AS Mia Hamm serta Kristine Lilly. Gabungan ketiganya sukses mengantar North Carolina Tar Heels memenangkan NCAA Division 1 pada 1989. Pengalamannya di waktu dulu jelas jadi modal penting untuk menanggalkan kemampuan AS.

Tangan dingin Glotzbach membuat semua anggota tim ada dalam keyakinan diri tinggi. Itu disadari Bloodworth. Ia menjelaskan perjalanan Belanda lima tahun paling akhir demikian fenomenal. Ia memandang teamnya tunjukkan perubahan cepat. Dengan kualitas yang ada sekarang ini, Bloodworth optimis teamnya dapat tunjukkan permainan terbaik menantang AS sekaligus juga mencetak kemenangan. Menurut dia, status AS jadi juara bertahan tidak membuat Belanda gentar.

“Beberapa tahun waktu lalu, kami ingin memenangi suatu. Pertama, kami memenangi Piala Eropa 2017. Saat ini, kami di sini di final Piala Dunia. Itu benar-benar mengagumkan. Kami tidak inginkan apapun, tidak hanya jadi juara,” tandas Bloodworth. Meskipun begitu, tekad Belanda jadi juara dunia untuk pertama-tama tidak gampang.

Soalnya, AS bukan musuh asal-asalan. USWNT berstatus jadi pengoleksi gelar paling banyak Piala Dunia Wanita, yaitu 3x pada 1991, 1999, 2015. Catatan 22 gol dari enam pertandingan jelas memvisualisasikan begitu menakutkannya kemampuan AS. Trio Alex Morgan, Christen Press, serta Tobin Heath jadi intimidasi serius buat posisi pertahanan Belanda yang selama ini telah kecolongan 3x.

Spesial Morgan, Pelatih AS Jill Ellis mengharap striker andalannya itu masih berkonsentrasi penuh. Maklum, Morgan jadi kabar berita atas selebrasi golnya waktu hadapi Inggris, Rabu (3/7). Walau memetik masukan, Morgan berlaku enjoy. Morgan menjelaskan selebrasi yang dilakukan tidak punya niat menyentuh atau merendahkan siapa juga, sebab hanya menirukan orang yang minum teh.

Ia malah memandang ruangan gerak pesepak bola wanita hanya terbatas jika dibanding pria yang lebih bebas lakukan semua hal. “Saya merasakan ada seperti standard ganda buat wanita dalam olahraga. Kita harus rendah hati dalam kesuksesan. Kita bisa lakukan suatu, tetapi harus selalu lewat cara yang hanya terbatas. Anda lihat beberapa orang rayakan di penjuru dunia dalam kompetisi besar,” kata Morgan.